Tersenyumlah
Sunday, May 25th, 2008Sejak senja
tadi kawanDi langit
tersusun rasi kerlip siluetmuHm… hangat…
tak pernah sepi di dalam siniSayup
denting lagumu… mengisiTerimakasih…
adalah awalnya
Hingga
kulihat hujan di pagi hariSejuk…
lembut… semuanyapun diamKudengar
dentingan manis itu kian menggemaTak ingin
kutolak lagi: K e p a s t i a nYang
tersungging di bibirku… setelah itu
***
Saya terperangah. Gak nyangka, bisa bersua lagi dengan kertas surat berisi puisi ini.
Sudah 10 apa 11 tahun yang lalu. Puisi yang sengaja saya tulis
untuk seorang teman, yang katanya ingin ‘nyatain’ sama seorang gadis yang
disukainya. Tapi nyatanya, puisi ini malah saya temukan di dalam hadiah ulang
tahun dari dia buat saya. Waktu itu reaksi saya heran plus kesal.
Sudah capek-capek dibikinkan kok malah dikembalikan?
Hmm… alangkah naifnya saya :p
Maaf. Saya kok merasa lucu membayangkan reaksi dia waktu
itu. Mungkin dia dan sobatnya yang berisik itu hanya geleng-geleng kepala
melihat ketololan saya. Lalu saat ia tertunduk sedih, sobatnyapun lalu sibuk
mengusap-usap punggungnya seraya berucap, “Suatu saat dia akan mengerti… dia
akan mengerti…”
Yeah guys… Akhirnya saya mengerti, sekarang. Setelah
perjalanan takdir merentangkan raga kita, tsunami menyapu kampung halamanmu,
dan tanah menimbun sahabat kita. Namun tidak di benak ini.
Saya masih ingat saja saat dia menyuruh mengulang lagi wudhu
saya yang kebetulan terlihat olehnya. “Basuh tangan tuch mesti sampe sikut!”,
titahnya dengan kening berkerut.
Sama seperti saya selalu ingat pada sobatnya yang berisik
itu, yang telah mengajari saya sujud syahwi. “Subhaanalladzii laa yas-hu walaa
yanam… makanya kalo sholat jangan sambil mikirin seniormu itu,” omelnya sambil ngejogrok ngudut di ruang santai.
Sang Penyayang telah menghadirkan mereka dalam satu babak
kehidupan saya dulu, namun ternyata bukan untuk menjadi imam saya. Mereka sepasang
sahabat yang tanpa rencana telah membantu menyempurnakan tuntunan awal dan akhir sholat saya. Mereka
berinvestasi dalam setiap sholatku yang diterima-Nya (apalagi yang jumlah rakaatnya lupa ;p).
Yup. They were my male-angels.
Mungkin kenaifan saya kala itu adalah berkah.
Karena setelah peristiwa puisi dodol itu kami masih bisa
bersama, tertawa.
Puluhan kupu-kupu beterbangan di sekitarku, dia, dan sobatnya.
Karena seperti jawabku padanya dulu pada pertanyaan
curi-curinya saat kami bercanda di bawah saung:
“Mm… aL, Kalo elo… mungkin gak pacaran sama orang kayak guwa?”,
selidiknya sambil ‘tertawa’.
Sayapun menjawab kalem.
“Elu kurang tinggi.”
Bandung, 26 May 2008